Perubahan Iklim Ancam Ketahanan Pangan Sejumlah Daerah
Jakarta ( Berita ) : Perubahan iklim yang sudah terjadi saat ini akan mengancam ketahanan pangan sejumlah daerah sehingga perlu program antisipasi atau adaptasi terhadap gejala tersebut.
“Kasus di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan bahwa iklim sudah berubah, itu memang dibuktikan akibat adanya pemanasan global,” kata Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Perikanan, Bayu Krisnamurthi di Jakarta, Senin [24/11] .
Menurut Bayu, meskipun perubahan iklim sudah terjadi namun hingga saat ini belum ada daerah-daerah yang membuat program-program adaptasi secara komprehensif.
Pemerintah, lanjut dia, akan melakukan semacam proyek percontohan adaptasi terhadap perubahan iklim di NTT yang bersifat akar rumput di level desa, sehingga masyarakat diajak untuk menyesuaikan diri dengan situasi iklim yang baru.
“Program ini akan menjangkau enam kabupaten, 150 desa, dan akan dipantau keberadaan 6.000 rumah tangga.Enam kabupaten itu antara lain adalah Belu, Timor Tengah Selatan, Rote Ndao, Sumba Timur, dan Lembata,” jelasnya
NTT dipilih sebagai lokasi percontohan di Indonesia karena NTT merupakan salah satu daerah yang paling berat menderita akibat perubahan iklim. “Kalau ini berhasil kita akan gulirkan terus, diharapkan bisa jadi inspirasi bagi daerah lain, supaya membangun ketahanan pangannya,” katanya.
Menurut Bayu, selain NTT, daerah-daerah lain yang rentan terhadap dampak perubahan iklim antara lain NTB bagian timur, Sulawesi bagian timur, dan sebagian Kalimantan.
Menurut Bayu, selain program yang dikembangkan Kementerian Koordinasi Perekonomian, juga terdapat program sektoral seperti di Deptan, Dephut, dan Dep. PU. “Program di NTT merupakan program yang unik dan khusus karena basisnya di masyarakat desa itu sendiri,pengetahuan lokalnya dibangun supaya mereka bisa mencari solusi adaptasi terhadap perubahan iklim,” jelasnya.
Ia menyebutkan, anggaran untuk proyek itu seluruhnya dari PBB yang merupakan tindakan konkrit dari pertemuan Bali beberapa waktu lalu. “Proyek ini untuk jangka waktu lima tahun mulai 2009, estimasi kebutuhan dananya sekitar 1,5 juta dolar AS, tapi bisa berkembang sesuai kebutuhan,” jelas Bayu. ( ant )
